Selama beberapa dekade, ahli paleontologi telah menebak-nebak.
Mereka memegang tengkorak yang membatu. Mereka melihat ke dalam. Mereka melihat punggung bukit dan gundukan yang samar-samar. Kemudian? Mereka menebak bagian otak mana yang menciptakannya.
Itu subjektif. Berantakan. Kini, tim dari Musée National d’History Naturelle di Paris telah membangun kerangka kerja yang sebenarnya. Sebuah kunci. Sebuah “Batu Rosetta”, begitu mereka menyebutnya, untuk membaca jejak pikiran kuno.
Pemindaian
Antoine Balzeau dan rekannya merekrut 75 orang. Relawan yang nyata dan hidup. Mereka pergi ke rumah sakit Pitié-Salpêtrière untuk pemindaian MRI. Mengapa MRI?
Tidak ada radiasi.
Penelitian yang merupakan bagian dari proyek PaleoBRAIN ini memerlukan data resolusi tinggi untuk membandingkan otak yang basah dan licin secara langsung dengan kesan tulang yang dihasilkannya. Selama dua tahun, tim merekonstruksi model 3D otak setiap subjek, lapisan otaknya, dan endocast hipotetis yang akan direkam tengkorak jika otak tersebut mati dan menjadi fosil saat ini.
Hasilnya?
Objektivitas.
“Untuk 75 individu, kami menganalisis… apa yang sebenarnya berhubungan dengan mereka,” kata Balzeau.
Tidak ada lagi dugaan. Tidak ada lagi interpretasi subjektif. Setiap arah. Setiap tanda. Datanya terbuka.
Garis Putus, Bukan Peta Sempurna
Analisis jadul mengandalkan atlas otak.
Atlas ini menganggap sulci (alur) seragam. Memanjang. Lurus. Mereka mengharapkan garis-garis bersih pada fosil tersebut. Tapi otak manusia kacau. Setiap orang mempunyai pola yang berbeda-beda. Peta yang unik.
Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar sulkus tidak menandai keseluruhan tengkorak.
Alih-alih?
Garis pendek. Segmen terputus. Kesenjangan. Tandanya terfragmentasi, terutama di dekat bagian atas tengkorak yang kontaknya lemah. Mereka berkumpul di bagian bawah, tempat otak menekan tulang lebih keras.
Pandangan lama itu salah.
Endocast bukanlah gambaran negatif dari peta yang mulus. Itu adalah mosaik. Terputus-putus. Variabel. Mengenali kisaran ini sangatlah penting. Jika kita terus mencari garis lurus panjang pada fosil, kita membaca omong kosong.
Tanda Hantu
Lalu ada misterinya.
Sekitar 12% tanda pada endocast—kebanyakan di dekat bagian atas—tidak cocok dengan sulkus apa pun di otak di bawahnya.
Mereka menyebutnya MNAS (Tanda Tidak Berhubungan dengan Sulci).
Mereka tampak seperti alur otak. Itu seharusnya berupa alur. Tapi ternyata tidak. Beberapa jaringan lain, mungkin pembuluh darah, mungkin selaput, menekan tulang di sana. Atau mungkin hanya varian acak. Tidak menjadi masalah mengapa, tepatnya, saat ini. Yang penting adalah mengetahui bahwa mereka bukan sulci.
Mengabaikan hal ini menyebabkan kesalahan.
Para peneliti secara historis menafsirkan tanda-tanda MNAS ini sebagai alur otak. Ini mendistorsi anatomi nenek moyang kita. Balzeau memperingatkan bahwa penafsiran harus berpegang pada pedoman yang sudah ditetapkan. Kerangka kerja baru ini mengidentifikasi dengan tepat merek mana yang sulcal dan mana yang merupakan entitas MNAS yang misterius.
“Kami mengusulkan… dasar yang obyektif,” tulisnya.
Otak Besar
Masih ada lagi.
Ahli paleontologi sering memperkirakan ukuran otak purba dengan mengukur ruang kosong di dalam fosil tengkorak—volume endokrin. Apakah ini proksi yang bagus?
Ya.
Data Balzeau menegaskan asumsi tersebut. Perubahan volume otak berkorelasi dengan perubahan ruang yang ditempati di tengkorak. Otak hominin memang menjadi lebih besar. Metode pengukurannya valid.
Tapi ukurannya mudah.
Fungsi? Keras.
Langkah Selanjutnya
Tim telah melampaui anatomi. Sekarang mereka melihat perilaku.
Mereka mencatat data tentang kecenderungan kidal untuk seluruh 75 subjek. Kekuatan. Presisi. Ketangkasan. Tujuannya? Temukan hubungan antara cara seseorang menggunakan tangannya dan asimetri dalam struktur otaknya.
Orang yang tidak kidal memiliki asimetri otak yang berbeda dengan orang yang kidal. Apakah perbedaan tersebut terlihat pada cetakan tulangnya?
Jika ya, fosil tengkorak mungkin bisa memberi tahu kita tentang perilaku. Bukan hanya bentuk. Tapi fungsinya. Apa yang nenek moyang kita lakukan.
Semua datanya online. Modelnya bersifat publik.
Itu mengubah segalanya.
Atau benarkah?
Fosil tetaplah pecahan. Waktu tetap menjadi musuh. Kami memiliki kodenya, tetapi kami masih kekurangan sebagian besar pesannya.
