Kencan di kalangan orang dewasa berusia di atas 50 tahun sepertinya sedang meningkat, namun para peneliti mengakui bahwa mereka hampir tidak memiliki data yang mendukung hal tersebut. Meskipun masyarakat berasumsi bahwa percintaan adalah tujuan utama kaum muda, semakin banyak orang berusia lanjut yang secara aktif mencari pasangan. Namun, sebagian besar komunitas ilmiah mengabaikan kelompok ini, sehingga meninggalkan kesenjangan yang signifikan dalam pemahaman kita tentang hubungan di kemudian hari.
Pergeseran Demografis
Alasan terjadinya revolusi diam-diam dalam berkencan ini bersifat struktural dan sosial. Menurut Mairi Macleod, pendiri program dukungan kencan Dating Evolved, kondisi para lajang yang lebih tua berubah dengan cepat.
- Populasi yang Bertambah: Jumlah mitra potensial semakin bertambah. Di Inggris saja, jumlah penduduk berusia di atas 50 tahun meningkat sebesar 3,1 juta pada dekade menjelang tahun 2025, sebuah tren yang diperkirakan akan terus berlanjut selama dua puluh tahun ke depan.
- Tingkat Perceraian yang Meningkat: “Perceraian abu-abu” menjadi lebih umum di Inggris dan negara-negara Barat lainnya, sehingga banyak orang kembali ke pasar kencan di kemudian hari.
- Perubahan Norma Sosial: Berpasangan kembali setelah kehilangan atau perceraian semakin dapat diterima secara sosial, menghilangkan stigma yang pernah membuat orang lanjut usia enggan mencari hubungan baru.
“Informasi sangat minim,” kata Macleod. “Tetapi sangat penting bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun untuk memiliki hubungan yang baik; kami masih ingin berhubungan seks dan sebagainya.”
Mengapa Sains Mengabaikan Cinta yang Lebih Tua
Meskipun terdapat tren demografis yang jelas, penelitian akademis mengenai kencan masih condong ke arah populasi yang lebih muda. Craig Roberts dari Universitas Stirling mencatat bahwa sebagian besar penelitian berfokus pada mahasiswa sarjana atau orang-orang berusia 20-an dan 30-an karena mereka lebih mudah untuk disurvei.
Divine Charura, psikolog di York St John University, berpendapat bahwa bias ini berakar pada biologi dan ekonomi. Masyarakat secara tradisional memandang cinta sebagai mekanisme reproduksi, yang biasanya terjadi sebelum usia 50 tahun. Selain itu, kelompok usia 20 hingga 40 tahun mewakili tahun-tahun kehidupan yang paling produktif secara ekonomi.
“Dalam beberapa hal, ini adalah kapitalisme,” jelas Charura. “Ada lebih banyak dana yang tersedia untuk belajar di usia awal, usia kerja.”
Bias sistemik ini menyebabkan tidak terlihatnya budaya seksualitas orang yang lebih tua. Charura mengatakan bahwa masyarakat sering meremehkan kehidupan romantis para lansia, mengabaikan fakta bahwa banyak lansia yang tetap aktif secara seksual dan menjalin hubungan asmara hingga usia 80-an dan 90-an.
Ketidakseimbangan Gender dalam Kencan di Kehidupan Selanjutnya
Bagi mereka yang memasuki pasar kencan setelah usia 50 tahun, pengalamannya tidaklah sama. Penelitian Macleod terhadap perempuan heteroseksual di Inggris menyoroti kesenjangan gender yang signifikan.
Tantangan Utama bagi Perempuan:
* Kekurangan Mitra: Laki-laki umumnya memiliki harapan hidup lebih pendek dibandingkan perempuan. Selain itu, pria lebih cenderung mencari pasangan yang lebih muda dari dirinya.
* Pasar Kompetitif: Akibatnya, perempuan sering kali harus bersaing untuk mendapatkan laki-laki seusia mereka yang semakin menyusut. Macleod mencatat bahwa acara kencan kilat untuk orang lanjut usia sering kali dibatalkan karena kurangnya peserta laki-laki.
Namun, ada keuntungan tersendiri jika berkencan di kemudian hari. Program Macleod, yang mendukung lebih dari 200 perempuan melalui panggilan kelompok mingguan, telah mengidentifikasi bahwa perempuan lanjut usia sering kali memiliki kemandirian finansial dan rasa percaya diri yang lebih besar. Tanpa tekanan “jam biologis”, mereka menjadi lebih selektif.
“Wanita yang lebih tua lebih mampu memilih,” kata Macleod. “Mereka umumnya memutuskan untuk tidak punya cowok sama sekali jika mereka tidak bisa menemukan cowok yang mereka anggap layak.”
Melihat ke Depan
Menyadari kesenjangan pengetahuan ini, peneliti seperti Macleod dan Roberts kini merencanakan penelitian yang ditargetkan untuk memahami tantangan spesifik yang dihadapi oleh para lajang lanjut usia. Tujuannya adalah untuk melampaui bukti-bukti yang bersifat anekdotal dan memberikan dukungan praktis dan berbasis bukti untuk demografi yang telah lama diabaikan.
Seiring bertambahnya usia populasi, memahami nuansa romansa di kemudian hari bukan hanya sekedar keingintahuan sosial—tetapi merupakan masalah kesehatan masyarakat dan sosial yang mendesak. Sebelum penelitian menemukan kenyataan yang ada, kehidupan berpacaran di kalangan orang-orang berusia di atas 50 tahun akan tetap banyak disalahpahami, meskipun prevalensinya semakin meningkat.
